Posts Tagged ‘Cerita Rakyat’
Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning.
Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau disana.
Read the rest of this entry »
Alkisah ada seorang pangeran bernama Raden Putra yang menikah dengan seorang puteri bernama Dewi Limaran. Suatu hari ketika Dewi Limaran sedang berjalan-jalan di taman istana, dia melihat seekor keong diantara bunga-bunganya yang cantik. Kemudian dia meminta salah seorang pelayannya untuk mengambil keong itu dan melemparnya jauh-jauh. Sebenarnya, keong tersebut adalah seorang penyihir tua yang sedang menyamar menjadi keong. Dia marah sekali dan mengutuk sang Dewi Limaran sehingga berubahlah dia menjadi seekor keong emas dan dilempar ke sungai. Arus sungai membawanya jauh dari istana.
Di tepi hutan yang lebat, tinggallah seorang janda. Pekerjaannya hanyalah mencari ikan. Hari itu adalah hari yang kurang menguntungkan baginya karena dia tidak dapat menangkap seekor ikanpun. Dicobanya beberapa kali dia menebar jalanya tanpa hasil, sampai akhirnya diapun memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya. Tiba-tiba dia melihat sesuatu berkilauan di bagian bawah jaringnya. Rupanya hanya seekor keong. Namun kemudian diapun memungutnya dan membawanya pulang. Kulit keong yang keemasan belum pernah dilihat olah janda tersebut.
Pitung adalah salah satu pendekar orang asli Indonesia berasal dari daerah betawi yang berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Pitung dididik oleh kedua orang tuanya berharap menjadi orang saleh taat agama. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah menitipkan Si Pitung untuk belajar mengaji dan mempelajari bahasa Arab kepada Haji Naipin.
Setelah dewasa Si Pitung melakukan gerakan bersama teman-temannya karena ia tidak tega melihat rakyat-rakyat yang miskin. Untuk itu ia bergerilya untuk merampas dan merampok harta-harta masyarakat yang hasil rampasannya ini dibagikan kepada rakyat miskin yang memerlukannya.
Read the rest of this entry »

